Sabtu, 21 November 2015

Keanekaragaman X IPA Tiga
(oleh: Diana Sita Diwara Cendyrian Pramurtama/X IPA 3/05)

Keanekaragaman adalah hal atau keadaan yang beraneka ragam. Beraneka ragam artinya bermacam-macam atau berbeda-beda.
X IPA tiga merupakan salah satu kelas jurusan Matematika dan IPA di SMA Negeri 2 Magelang. Perbedaaan yang dimiliki setiap anak, membuat kelas yang berpenghuni 29 orang ini beragam.
Berdasarkan jenis kelamin, siswa kelas XIPA tiga dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perempuan dan laki-laki. Jenis kelamin perempuan berjumlah 22 orang dan jenis kelamin laki-laki berjumlah 7 orang. Walaupun jumlah siswi perempuan lebih banyak dari siswa laki-laki, tetapi kelasX IPA tiga memiliki kekompakkan yang luar biasa.
Seluruh siswa dan siswi kelas X IPA tiga beragama islam. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan penampilan mayoritas siswi kelas X IPA tiga yang mengenakan jilbab. Tak hanya itu, kebiasaan siswa dan siswi kelasX IPA tiga melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
Keanekaragaman penghuni X IPA tiga, yaitu umur dari setiap anak. Mayoritas umur yang dimiliki anak kelas X IPA tiga adalah 15 tahun, sedangkan umur tertingginya 16 tahun dan umur terendahnya 14 tahun.
Keanekaragaman yang dimiliki siswa dan siswi kelas X IPA tiga lainnya, yaitu perbedaan dari cita-cita setiap anak. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, cita-cita setiap, yaitu dokter/perawat 8 anak, TNI 4 anak, pengusaha 4 anak, guru 3 anak, dan lain sebagainya.
Berbagai organisasi dan ekstrakurikuler yang diikuti dari masing-masing anak pun beragam. Organisasi yang diikuti, yaitu Majelis Perwakilan Kelas (MPK) empat anak, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) tiga orang, dan pramuka 5 orang. Ekstrakurikuler yang diminati masing-masing anak dapat digolongkan menjadi 8, yaitu PMR 11 anak,Pasukan Pengibar Bendera Pusaka SMADA (BARA SMADA) 3 anak, renang 2 anak, pencak silat 3 anak, tari 1 anak, teater 1 anak, rohis 2 anak, fotografi 3 anak.
Pekerjaan orang tua pun ikut andil dalam keanekaragaman kelas X IPA tiga, pekerjaan ayah dapat dikelompokkan menjadi 3,TNI, petani, dan PNS. Pekerjaan ibu mayoritas sebagai ibu rumah tangga, ada juga yang bekerja sebagai guru 2 orang, .

Hobi yang dimiliki setiap anak pun beragam, seperti membaca yang digemari 6 anak, nonton film atau televisi digemari 5 anak,menyanyi yang digemari 3 anak, dan yang lainnya ada yang gemar menanam pohon, memancing, menggambar, bertamasya, bermaidn bola voli, bermain tenis meja, dan lainnya.

Jumat, 20 November 2015

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
Oleh : Diana Sita Diwara Cendyrian Pramurtama/X MIA 3/05

Pada suatu hari di sebuah sekolah, disela-sela pelajaran salah seorang guru mengumumkan kepada muridnya bahwa sekolah mereka akan menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.
“Anak-anak sekolah kita sebentar lagi akan menjadi sekolah bertaraf internasional,lho.”jelas Bu Guru.
“Masa sih,Bu!”jawab murud-murid serempak.
“Iya,nak.”jawab Bu Guru
“Ah masa?”tanya murid-murid lagi.
“Iya!!”tegas Bu Guru.
“Teruuusss??”tanya para murid.
“Apa yang akan kalian persiapkan jika sekolah kita bertaraf internasioanl?” tanya Bu Guru.
“Saya akan meluangkan waktu saya untuk belajar lebih giat.”jawab Koneng.
“Bagus,Koneng.Kalau kamu Juju,apa yang akan kamu persiapkan?”tanya guru kepada Juju.
“Saya akan daftar ke bimbel yang terbaik.”jawab Juju.
“Ide yang cemerlang,Juju. Kalau kamu Popo?”tanya guru lagi.
“Saya akan berhemat dan rajin menabung.”jawab Popo dengan lugas.
“Kenapa begitu?”tanya guru dengan bingung.
“Karena menurut saya,RSBI bukan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, tetapi Rintisan Sekolah Bertarif Internasional.”jawab Popo.
“Maksudnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional itu sekolah kita seperti sekolah di luar negeri yang lebih banyak menggunakan bahasa inggris.”jelas Guru.
“Tapi, semua biaya sekolah RSBI itu serba mahal. Jadi, kita harus berhemat dan rajin menabung.”tegas Popo.
“Anak-anak bagaimana menurut kalian?”tanya Bu Guru kepada semua murid.
“Saya setuju dengan Popo,Bu.Karena menurut saya RSBI serba harga internasional.”jawab Dodok.
“Saya juga setuju,Bu.”jawab para murid.
“Bertaraf internasional bukan bertarif internasional!!!!”terang Bu Guru.
“Tapi serba mahal,Bu!!!”jawab para murid serempak. Suasana kelas menjadi ricuh.
“Iya,Bu.Betul itu!”tegas salah seorang murid.
“Huuh,terserah kalian deh.”jawab Bu Guru dengan kesal.
            Bu Guru pun akhirnya mengalah dan melanjutkan pelajaran yang akan dia ajarkan. Suasana kelas pun kembali seperti semula.