The Regret
(Oleh : Diana Sita Diwara Cendyrian Pramurtama /X MIA 3/05)
Gadis itu hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Matanya memandangi jendela kamar dengan gorden yang menari-nari terdorong angin yang berhembus. Tess... Tess... Air mata gadis itu pun meluncur menggenangi lantai kamarnya. Kedua tangannya berusaha menghilangkan daya mendengarnya. Namun, hal itu membuatnya meneteskan air mata hingga menjadi lautan garam di kamarnya. Bibirnya seakan terdorong tekanan dari dalam mulut yang ingin memberontak keluar. Badannya semakin menggigil seperti terkocok beribu-ribu angin. Dikepalanya hanya ada pertanyaan, "Mengapa aku bisa melakukan hal seperti ini?". Di ingatannya hanya ada kejadian yang dia lakukan tadi siang.
°°°
Tok... Tok... Tok...
Bunyi ketukan pintu memecah ingatannya. Dibalik pintu terdengar suara yang lirih nan lembut.
"Sani... Sani.. Buka pintunya nak, mama mau antar makanan kesukaanmu ini. Buka ya, sayang!" panggil mamanya Sani, Mama Mut.
"Tolong taruh situ aja, Mah." jawab Sani sembari mengusap air matanya.
"Ya sudah, mama taruh disini,ya. Jangan lupa dimakan!" kata Mama Mut sambil meletakkan nampan berisi sepiring nasi dan lauk serta air mineral sebagai obat dahaga di lantai depan pintu kamar Sani.
"Iya, ma. Makasih." ucap Sani.
Sani melangkahkan kakinya menuju nampan itu diletakkan. Tiba-tiba, bunyi handphone Sani berdering. Lalu, Sani mendekati dan melihat nama penelepon.
Badan Sani kembali menggigil, wajahnya pucat, dan bibirnya menganga. Dadanya seakan terhantam meteor besar yang membuatnya semakin melemah. Di layar handphone itu tertulis nama Kanya.
"K..Ka.. Kanya?? Apa maksudnya? Kanya masih hidup?" ucap Sani.
Plung...
Setelah dering handphone Sani berhenti, bunyi itulah yang terdengar. Sani membuka pelan pesan yang dikirim Kanya.
"Kenapa kamu ninggalin aku di jalan tadi? Aku tergeletak di jalan sendirian, penuh dengan darah! Tolongin aku sekarang! Bantu aku!" isi pesan dari Kanya.
Tak lama kemudian, bunyi handphone Sani kembali terdengar. Kali ini, bukan pesan dari Kanya. Namun, pesan ini dari Gea, sahabat Sani.
"Sani, Kanya meninggal!! Kanya meninggal tadi siang sepulang sekolah. Kata ibunya, Kanya meninggal karena tertabrak mobil, sampai sekarang handphone Kanya belum ketemu. Sekarang , jenazah Kanya udah di rumah duka dan mau disemayamkan. Aku harap kamu datang. Aku jemput 15 menit lagi." isi pesan dari Gea.
"Kanya meninggal? Hp nya belum ketemu? Jenazah Kanya mau disemayamkan? Terus, yang sms aku, siapa?" ucap Sani sambil membenturkan kedua gigi atas dan bawahnya.
°°°
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu itu kembali terdengar. Suara lirih nan lembut Mama Mut pun kembali terdengar. Namun, lain dari sebelumnya, Mama Mut membuka pintu dan masuk dengan membawa nampan yang diletakkan di lantai depan pintu kamar Sani tadi.
"Sani, kamu sakit? Kenapa makanannya belum kamu ambil? Mata kamu? Ada apa Sani? Cerita sama mama, nak." tanya Mama Mut memberondong.
"Teman Sani,mah. Kanya.Kanya!!" jawab Sani sambil meneteskan air matanya kembali.
"Kanya kenapa,Sani?" tanya Mama Mut panik.
"Kanya..mm..mm..me..meninggal! huuhuuhhuu.." ucap Sani terbata-bata. Suaranya lirih, badannya gemetar, dan matanya sayu.
"Innalillahi wa inaillaihi raji'un. Terus kamu mau ke rumah Kanya, sekarang?" tanya Mama Mut.
"Iya,mah. Sebentar lagi, jenazah, Kanya mau dimakamkan." jawab Sani terisak.
"Ya sudah, kamu sholat Isya' dulu. Habis itu kamu makan, biar mama antar ke rumah Kanya." saran Mama Mut.
"Nggak usah diantet,mah. Sani barengan Gea, aja." kata Sani lebih tenang.
"Ya sudah, kamu sholat Isya' dulu, ya!" perintah mama sambil meninggalkan Sani dikamarnya.
Sani hanya menganggukkan kepala, pertanda bahwa di mengiyakan perintah mamanya itu.
°°°
Allahu Akbar....
Samiallahuliman hamidah...
Allahu Akbar....
Saat Sani ingin melakukan sujud. Tiba-tiba, Sani melihat Kanya tergeletak di samping sajadahnya. Wajah Kanya penuh dengan darah yang mengucur dari mata, kening, dan hidungnya dengan raut wajah yang sedih membuat Sani spontan berteriak.
"Aaaaaa!! Tidaaaakk !!!!" teriak Sani yang membuat mamanya terkejut.
"Sani!! Kamu kenapa, sayang?" tanya Mama Mut panik sambil memeluk tubuh Sani yang gemetaran.
"Itu...itu, Mah!" ucap Sani ketakutan sambil menunjuk ke arah dimana Kanya muncul.
"Itu apa? Kecoa ini?" tanya Mama Mut sembari memukul kecoa yang ada di sejarah Sani.
Sani membuka matanya pelan. Namun, tak ada lagi hantu Kanya di kamar Sani. "Mungkin hanya berhalusinasi" pikir Sani.
"Udah mati,tuh. Sana sholat lagi!" perintah Mama Mut.
"Tapi, mama tungguin Sani ya, Mah." pinta Sani merengek.
"Iya, sayang." jawab Mama Mut.
Mama Mut setia menunggu anak semata wayangnya. Sejak Sani sholat Isya', makan, dan di jemput Gea di rumah, mamanya Sani selalu disamping anak tersayangnya.
"Sani berangkat dulu ya, Mah." pamit Sani sambil mencium tangan mamanya.
"Iya,sayang. Hati-hati, ya. Jangan pulang larut malam. Tante titip Sani ya, Gea." pinta Mama Mut.
"Iya, Tante. Siap. Berangkat dulu ya, Tante. Assalamualaikum." pamit Gea.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mama Mut.
°°°
Di dalam mobil Gea, Sani hanya terdiam seribu bahasa. Melihat hal itu , Gea merasa aneh. Hal itu tak pernah dilakukan Sani selama ini.
"Sani! Kamu terharu banget seperti itu, sih? Oh.. Aku tahu, kamu pasti menyesali perbuatanmu selama ini ke Kanya! Iya,kan?" ledek Gea.
"Apaan,sih! Aku cuma enggak percaya aja, umur Kanya bentar banget." jewab Sani malu .
"Halah, sudahlah Sani. Aku kenal kamu 5 tahun , aku tahu kamu gimana." ledek Gea lagi.
"Sudahlah! Diam kamu !" bela Sani kesal.
Plung ....
Dering handphone Gea merubah suasana di dalam mobil itu.
"Tolong bukain, San!" pinta Gea.
Sani pun mengikuti perintah Gea. Sani membuka pesan dari Sarah.
"Ge, Kanya sudah dimakamka . Kalau kamu mau ke makam Kanya, langsung ke pemakaman dekat rumah Kanya." baca Sani.
"Ya sudah, kalau gitu kita ke makam Kanya, aja." ajak Gea.
"Ah, besok aja,deh. Ini sudah malam." tolak Sani langsung.
"Haduh, nggak apa-apa, San!" paksa Gea yang membuat Sani menurutinya.
°°°
Sesampainya di makam Kanya, Sani tak berani untuk menatap kedepan. Makam itu sungguh gelap, wangi anyir, dan bunga mawar menusuk hidung Sani. Langkah Sani terasa berat, kedua tangan Sani menggenggam erat lengan Gea. Tepat di depan pusara Kanya, Sani meminta maaf atas segala kesalahan Sani selama ini. Sani sering melakukan tidak baik kepada Kanya. Sani pun sering menjelek-jelekkan Kanya didepan Chio, mantan kekasihnya.
Saat Sani menatap kedepan, seketika dihadapannya ada sesosok perempuan mengenakan baju seragam mirip dengan seragam sekolahnya yang dikenakan Kanya saat tertabrak tadi siang. Pakaian perempuan itu penuh dengan darah , wajahnya pun mirip dengan hantu Kanya yang dilihatnya tadi di samping sajadahnya. Itu Kanya.
"Aaaaa!!!! Maafin aku, Kanya! Ampun! Aku minta maaf, aku salah, aku suka fitnah kamu didepan Chio!! Aku rela kalau kamu pacaran sama Chio!! Pliis... Maafiiiinnn aaakkkuuuu!!!! Aku nggak sengaja nabrak kamu!!Ampuuun!!!" teriak Sani histeris sambil berjalan mundur.
"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan!!! Kamu harus mati!!! Kamu harus mati, Sani!!!" ancam hantu Kanya berjalan mendekati Sani.
Sesampainya dimobil Gea, suara tertawa lepas terdengar di telinga Sani. Kanya, Gea, dan Sarah ada dihadapannya sambil tertawa dengan wajah puas. Sani menyadari jika dia sedang kena jebakan mereka.
"Kalian ngerjain aku,ya? Jahat banget,sih!" teriak Sani kesal.
"Hahahahhaaa.... Suruh siapa jahatin Kanya. Sekarang kamu takut kan sama Kanya?" ledek Sarah.
"Sani, ikhlas aja dong kalau Chio mutusin kamu dan milih Kanya!" tambah Gea.
"Iya, aku minta maaf, Kanya. Aku janji, nggak bakal jahatin kamu lagi, jauhin kamu sama Chio. Beneran!" janji Sani malu.
"Ikhlas nggak kalau Chio jadi pacar Kanya?" tanya Sarah meledek.
"Hmm...gimana,ya? Mmm... ya sudah, aku ikhlas lahir bathin." jawab Sani pasrah.
"Makasih ya ,Sani. Maafin aku juga sudah buat kamu ketakutan seperti ini." ucap Kanya.
"Iya,nggak apa-apa . Makasih ya kalian semua sudah buat aku sadar akan kesalahan aku selama ini." pinta Sani.
"Iya,Sani. Sama-sama." jawab Gea.
"Udah,yuk pulang! Seram, tauk!" ajak Sarah.
"Ayooo!!" ajak Gea.
Sani pun telah menyadari bahwa perbuatannya selama ini benar-benar salah. Sani sering memfitnah Kanya didepan Chio dan bersikap sinis kepada Kanya. Dengan drama yang disusun Gea,Sarah, dan Kanya, sikap Sani sekarang sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
^_^
Pada awalnya saya senang membaca cerita ini. Akan tetapi, pada bagian akhir saya merasa kecewa karena misteri yang disimpan di bagian awal ternyata hanya masalah sepele, cinta-cintaan
BalasHapus